Ini kisah nyata tentang seorang ibu rumah tangga yang sholihah, puinter masak, disayang oleh segenap keluarga, tetapi juga masih meluangkan waktu untuk berbagi resep2nya yang uenak tapi mudah, juga tentang kesehariannya bersama dua buah hati (Zidan dan Syifa) dan suami tercinta (Ayah Harris) di blognya: dapurbunda.blogspot.com.
Bunda Inong, demikian biasa ia dipanggil. Aku mengenal sosoknya hanya lewat blognya yang pasti muncul pada hasil search engine-nya Google manakala hunting resep. Resep-resepnya te o pe be ge te! Dibandingkan resep2 lain, biasanya resep dari Bunda tuh lebih mudah dan simple tanpa meninggalkan kelezatan yang diharapkan. Juga yang lebih indah karena aku dapat merasakan cintanya untuk kedua buah hatinya dari resep2 yang dibuatnya.
Awalnya, aku lebih fokus pada resep2 yang ada di blognya. Baru beberapa lama kemudian (karena seringnya diarahkan Google ke blognya), mulai ingin tahu seperti apa sosoknya dengan membaca profil atau pesan2 yang ditinggalkan para blogger lain di shoutbox-nya.
Aku menangis!
Tanpa terasa, pelupuk mataku sudah basah oleh air mata, semakin deras bahkan. Semakin ku baca isi shoutbox-nya, semakin sedih saja rasanya. Apa pasal?? Ternyata…Bunda Inong sudah berpulang ke Rahmatulloh 2 tahun silam. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un.
Dari shoutbox tersebut, aku baru tahu bahwa beliau meninggal dunia karena asma di Singapura pada tgl 31 Agustus 2006. Sepertinya sakitnya mendadak, entah karena kambuh atau bagaimana, sampai saat ini aku belum mendapat informasi mengenai detail penyakitnya. Hanya saja lewat sebuah blog temannya, aku pernah melihat foto2 saat beliau dirawat di rumah sakit (hanya tangannya yang diinfus, alat2 medis di sekitarnya, dan kondisi keluarga yang sedang saling menguatkan). Sedih sekali saat membaca blog tersebut, Bunda diberitakan sedang dirawat di rumah sakit, kondisinya parah. Saat itu (malam) dokter bahkan sudah menyatakan bahwa Bunda kemungkinan tidak dapat bertahan. Yang paling miris adalah saat melihat foto2 Syifa (putri keduanya) yang hari itu berulang tahun namun terus menerus menangis karena menginginkan bersama bundanya. Kado2 yang sudah dipersiapkan kerabat sejak jauh2 hari tidak mau dibukanya, Syifa hanya ingin bundanya. Syifa baru tenang setelah digendong oleh Sang Ayah.
Menurut blog tersebut juga, paginya Bunda Inong meninggal dunia. Tak terbayangkan bagaimana sedihnya Zidan dan Syifa juga Ayah Harris ditinggalkan oleh Sang Super Bunda itu. Dan memang, Zidan dan Syifa sangat2 terpukul. Namun dukungan keluarga yang begitu besar sepertinya sangat bermakna. Dari googling yang kulakukan, aku tahu bahwa kemudian Zidan dan Syifa tinggal bersama keluarga Sang Bunda di Jakarta, sedangkan Ayah Harris kemudian harus kembali bekerja di Singapura. Zidan dan Syifa belum mau mulai kembali bersekolah.
Selama dalam asuhan keluarga Sang Bunda ini, sepertinya Zidan dan Syifa sangat dekat dengan Tante Neng, yaitu adik Bunda Inong (Walaupun memang sudah sejak dulu mereka sangat saling menyayangi). Nah, kedekatan inilah yang kemudian menjadi pertimbangan suatu keputusan penting yang ternyata amat sangat didukung oleh segenap keluarga besar.
Menurut pengakuan Ayah Harris di blognya, ‘rasa’ itu datang sekitar awal Desember, kurang lebih 3 bulan sejak kepergian Bunda Inong. Ayah Harris mulai merasakan perasaan yang lain terhadap Tante Neng. Awalnya Ayah hanya bisa mencurahkan perasaannya dan memohon petunjuk pada Sang Khaliq, Alloh SWT. Baru kemudian setelah yakin, maka pada tgl 07 Januari 2007 beliau menyampaikan niatnya kepada Tante Neng dan pada tgl 24 Januari dilaksanakan lamaran resmi kepada orang tua Tante Neng yang notabene orang tua dari Bunda Inong juga.
Subhanalloh, akhirnya dilaksanakanlah pernikahan pada 03 Februari 2007 antara Ayah Harris dan Tante Neng. Seluruh keluarga terlihat bahagia. Tante Neng yang juga pinter masak ini pun terlihat sangat cantik dalam balutan busana pengantin muslimah yang dihiasi strawberry (Tante Neng pecinta strawberry). Foto2 pernikahannya dapat dilihat di blognya: nengindah.multiply.com.
Untuk menghormati Bunda Inong yang juga amat disayangi oleh Tante Neng, kedua buah hati barunya diminta untuk memanggil dirinya Mama, karena panggilan Bunda hanya untuk Bunda Inong dan tak kan tergantikan bagi mereka sekeluarga.
Rasanya aku mau bilang: I Love you Bunda, Al Fatihah buat bunda…
PS: Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan bagi pihak2 yang terkait...Hanya sedang menumpahkan yang dirasa...